Showing posts with label Sosialisasi Sebagai Proses Pembentukan Kepribadian. Show all posts
Showing posts with label Sosialisasi Sebagai Proses Pembentukan Kepribadian. Show all posts

Friday, January 4, 2013

Proses Dan Faktor Pembentukan Kepribadian

- 0 comments
Proses dan faktor pembentukan kepribadian adalah suatu hal yang sangat erat berkaitan. pada kesempatan yang bahagia ini. kan mimin lagi bahagia.hehe. sebelumnya ke proses dan pembentukan kepribadian ada sedikit mengenai mekanisme pertahanan diri. berikut selengkapnya:

  • Menurut Freud ada 9 mekanisme pertahanan diri dalam diri individu
yaitu sebagai berikut : 
a. Repression (represi). Pengalaman menyakitkan akan ditekan kea lam ketidaksadaran
b. Reaction formation (pembentukan reaksi). Individu bereaksi sebaliknya dari yang diinginkan agar tidak melanggar norma-norma.
c. Displacement (penempatan diri yang tidak tepat). Pihak ketiga yang menjadi sasaran karena ia tidak mampu melakukan kepada pihak kedua
d. Projection (diproyeksikan). Kesalahan sendiri dilemparkan atau dituduhkan kepada orang lain
e. Rationalization (mencari pembenaran). Mencari alasan yang masuk akal untuk menutupi kesalahan/kekurangan
f. Surpression (menekan diri). Menekan dorongan yang dianggap melanggar nilai/norma ke alam ketidaksadaran
g. Sublimation (mencari tindakan yang lebih sesuai). Dorongan atau keinginan yang dilarang oleh superego (akal sehat), tetapi tetap dilakukan dengan tindakan yang lebih sesuai dengan norma yang berlaku
h. Compensation (kompensasi). Menutupi kekurangan diri sendiri dengan cara berprestasi dalam bidang lain
i. Regression (regresi). Menutupi kelemahan atau kegagalan dengan cara kembali ke taraf yang lebih rendah. Contoh : pura-pura sakit, pura-pura tidak mengerti, berperilaku seperti anak kecil

  • Proses Pembentukan Kepribadian :

1. Aliran Konvergensi, kepribadian merupakan hasil perpaduan antara pembawaan (faktor internal) dengan pengalaman (faktor eksternal).

2. Aliran nativisme, kepribadian ditentukan oleh faktor pembawaan.

3. Aliran empirisme (tabularasa), kepribadian ditentukan oleh pengalaman dan lingkungannya

  • Menurut jung, Tipe kepribadian menurut fungsinya ada 4:

1. Kepribadian rasional, yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh akal pikiran sehat.

2. Kepribadian intuitif, yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh firasat atau perasaan kira-kira
.
3. Kepribadian emosional, kepribadian yang dipengaruhi oleh perasaan.

4. Kepribadian sensitif, kepribadian yang dipengaruhi oleh panca indera sehinggacepat bereaksi.

  • Tipe kepribadian berdasarkan reaksinya terhadap lingkungan ada 3:

1. Kepribadian ekstrovert, yaitu kepribadiaan yang terbuka, berorientasi ke luar sehingga sifatnya ramah, suka bergaul dan mudah menyesuaikan diri

2. Kepribadian introvert, yaitu kepribadian yang tertutup dan berorientasi pada diri sendiri sehingga sifatnya pendiam, tidak senang bergaul, suka menyendiri dan sukar menyesuaikan diri

3. Kepribadian ambivert, yaitu kepribadian campuran yang tidak bias digolongkan pada kedua tipe tersebut karena sifatnya bervariasi

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian

Ada 4 faktor Pembetuk kepribadian:

1. Warisan Biologis(Keturunan)

Sifat-sifat biologis manusia yang bersifat warisan memberikan andil yang cukup besar pada tahap pertama perkembangan kepribadian seseorang,misalnya jenis kelamin,ukuran tubuh,kekuatan jasmani dan kecintaan.

2. Lingkungan Alam(Geografis)

Faktor ligkungan alam turut menentukan corak kepribadian seseorang karena lingkungan tersebut menentukan tingkat kebutuhan pokok dan mempertahankan hidup.

3. Lingkungan Kebudayaan

Untuk dapat hidup dan bergaul dengan baik ,dalam suatu kebudayaan tertentu semua masyarakat mengembangkan tipe kepribadian tertentu yang selaras dengan kebudayaan mereka.

Factor lingkungan cultural (kebudayaan masyarakat ) berupa:

 Cara hidup yang berbeda antar desa

 Kebudayaan khusus kedaerahan atau etnis

 Kebudayaan khusus antar social

 Kebudayaan khusus karena perbedaan agama

 Pekerjaan atau keahlian

 Pengalam kelompok

 Pengalaman unik

4. Lingkungan Sosial

Nilai, norma dan kepercayaan yang ada dalam auatu kelompok juga menentukan terbentuknya kepribadian. Tanpa adanya pengalaman dari kelompok ini kepribadian tidak akan berkembang.
[Continue reading...]

Pengertian Kepribadian

- 0 comments
Bertemu lagi pada kesempatan ini akan share tentang apa itu kepribadian? dan tahap-tahap perkembanagan diri manusia. pastinya kita semua punya kepribadian dong. karena bila tidak berkepribadian manusia tidak bisa hidup aman dan tentram. tanpa basa basi langsung saja.

1. Pengertian kepribadian
Menurut  kamus  besar bahasa Indonesia, kepribadian  diartikan sebagai  sifat  hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari oorang lain atau bangsa lain. 

2. Pendapat Para Ahli :
Pendapat para ahli tentang kepribadian adalah sebagai berikut :

a. M.A. W. Brower mengatakan bahwa kepribadian merupakan corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sifat-sifat seseorang
b. Theodore R.  Newcomb mengatakan  bahwa kepribadian  adalah  organisasi  sikap-sikap
(predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku
c. J. Milton Yinger mengatakan bahwa kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang
dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi
d. John F. Cuber mengatakan bahwa kepribadian adalah gabungan dari sifat-sifat yang tampak
dan dapat dilihat oleh seseorang
e. Allport mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis dari system psiko-
fisik yang unik (khas) dari diri individu yang turut menentukan cara-cara penyesuaian dirinya
dengan lingkungan
Kepribadian  atau  personalitas dapat  di  definisikan  sebagai  ciri  watak  seorang indifidu  yang
konsisten  memberikan  kepadanya suatu  identitas
sebagai  indifidu  yang khas.  Kepribadian
merupakan  organisasi  dari  factor- factor  biologis,  pesikologis  dan  sosiologis  yang unsurnya
adalah pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri

3. Tahap Perkembangan diri manusia :
a. Tahap persiapan (preparatory stage)
b. Tahap meniru (play stage)
c. Tahap bertindak (game stage)
d. Tahap menerima norma (generalized others) 

Keterangan :
George Herbert Mead menjelaskan bahwa diri  manusia berkembang secara bertahap melalui interaksinya dengan  anggota  masyarfakat  yang lain,  mulai  dari  play stage,  game  stage,  dan generalized other.

Tahap 1: Preparatory
• Dalam  tahap  ini individu  meniru  perilaku orang-orang yang ada di  sekitarnya,  tetapi  belum mampu memberi makna apapun pada tindakan yang ditiru.
• Merupakan peniruan murni. 

Tahap 2: Play Stage
Play  Stage,  atau  tahap  permainan,  anak  mulai  memberi  makna terhadap  perilaku yang ditiru. Mulai  mengenal  bahasa.  Mulai  mendefinisikan siapa dirinya (identifikasi  diri)  sebagaimana definisi yang diberikan oleh significant other. Significant other merupakan orang yang secara nyata penting bagi seseorang dalam proses sosialisasi. Bagi anak-anak dalam tahap play stage, orangtua merupakan significant other. Bahkan, anak-anak tidak dapat memilih siapa significant. Definisi diri pada tahap ini sebagaimana yang diberikan oleh significant other.

Tahap 3 Game Stage
• Tahap ini berbeda dari tahap permainan, karena tindakan meniru digantikan dengan tindakan
yang disadari.
• Tidak hanya mengetahui peran yang dijalankannya, tetapi juga peran orang lain dengan siapa ia
berinteraksi.
• bola  dapat  dilakukan oleh  anak-anak pada  yang  telah  mengalami  sosialisasi  tahap  play  stage,
tetapi  bertanding sepakbola  baru  dapat  dilakukan  oleh  anak-anak  yang telah  mengalami sosialisasi  pada tahap  game stage. Mengapa demikian? Karena dalam pertandingan sepakbola ada prosedur dan tatacara yang harus ditaati. Anak-anak akan memahami tentang prosedur dan tatacara apabila telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage.

Tahap 4: Generalized Other
Pada tahap ini individu telah mampu mengambil peran yang dijalankan oleh orang-orang dalam masyarakatnya, ia telah mampu berinteraksi dan memainkan perannya dengan berbagai macam orang dengan status, peran dan harapan yang berbeda-beda dalam masyarakatnya.
[Continue reading...]

Fungsi, Tipe dan Macam-macam Sosialisasi

- 0 comments
pada kali ini saya akan share tentang Fungsi, Tipe dan Macam-macam Sosialisasi. panjang banget ya judulnya? ya begitulah karena juga per subnya juga sedikit. sosialisasi memang sudah banyak sekarang, tentu kalian juga pernah ikut sosialisasi kan. untuk lebih lengkapnya monggo.

Fungsi Sosialisasi 

berikut mengenai fungsi sosialisasi :

1. Bagi individu : agar dapat hidup secara wajar dalam kelompok masyarakat sehingga tidak aneh dan di terima di masyarkat lain serta dapat berpartisipasi.

2. Bagi masyarakat : menciptakan keteraturan social melalui penmungsian sosialisasi sebagai sarana pewarisan nilai dan norma serta pengendalian social


Macam-macam Sosialisasi

di bawah ini merupakan macam-macam sosialisasi:

1. Berdasarkan berlangsungnya: sosialisasi yang disengaja/disadari dan tidak disengaja/tidak disadari.

Sosialisasi yang disengaja/disadari: Sosialisasi yang dilakukan secara sadar/disengaja: pendidikan, pengajaran, indoktrinasi, dakwah, pemberian petunjuk, nasehat, dll.

Sosialisasi yang tidak disadari/tidak disengaja: perilaku/sikap sehari-hari yang dilihat/dicontoh oleh pihak lain, misalnya perilaku sikap seorang ayah ditiru oleh anak laki-lakinya, sikap seorang ibu ditiru oleh anak perempuannya, dst.

2. Menurut status pihak yang terlibat: sosialisasi equaliter dan otoriter.

Sosialisasi equaliter berlangsung di antara orang-orang yang kedudukan atau statusnya relatif sama, misalnya di antara teman, sesama murid, dan lain-lain, sedangkan sosialisasi

otoriter berlangsung di antara pihak-pihak yang status/kedudukannya berbeda misalnya berlangsung antara orangtua dengan anak, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan pengikut, dan lain-lain.

3. Menurut tahapnya: sosialisasi primer dan sekunder.

Sosialisasi primer dialami individu pada masa kanak-kanak, terjadi dalam lingkungan keluarga, individu tidak mempunyai hak untuk memilih agen sosialisasinya, individu tidak dapat menghindar untuk menerima dan menginternalisasi cara pandang keluarga

Sosialisasi sekunder berkaitan dengan ketika individu mampu untuk berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya.

4. Berdasarkan caranya: sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris/Pola Sosialisasi

Apabila mengacu pada cara-cara yang dipakai dalam sosialisasi , terdapat dua pola, yaitu represif, dan partisipatoris.

Sosialisasi Represif menekankan pada:

(1) penggunaan hukuman,
(2) memakai materi dalam hukuman dan imbalan,
(3) kepatuhan anak pada orang tua,
(4) komunikasi satu arah (perintah),
(5) bersifat nonverbal,
(6) orang tua sebagai pusat sosialisasi sehingga keinginan orang tua menjadi penting, dan
(7) keluarga menjadi significant others.

Sedangkan sosialisasi partisipatoris menekankan pada

(1) individu diberi imbalan jika berkelakuan baik,
(2) hukuman dan imbalan bersifat simbolik,
(3) anak diberi kebebasan,
(4) penekanan pada interaksi,
(5) komunikasi terjadi secara lisan/verbal,
(6) anak pusat sosialisasi sehingga keperluan anak dianggap penting, dan
(7) keluarga menjadi generalized others.

Tipe-tipe Sosialisasi

Adapun tipe-tipe sosialisasi antara lain sebagai berikut ini :

a. Informal
Sosialisai yang bersifat informal merupakan sosialisasi yang terdapat di masyarakat ataupun dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan seperti antara teman, sesama anggota klub dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

b. Formal
Sosialisasi formal ialah sosialisasi yang terjadi melalui lembaga-lembaga resmi seperti, sekolah, perguruan tinggi, madrasah, kantor, dan lain-lain.

[Continue reading...]

Media Sosialisasi

- 0 comments
Tentu perlu adanya sosialisasi untuk beberapa hal atau informasi dari pemerintah desa ataupun pemerintah bisa juga suatu perusahaan. dengan banyaknya media sosialisasi maka akan bisa terawasi. dan bisa terealisasikan, berikut tentang beberapa media sosialisasi meliputi keluarga, sekolah, teman, untuk lengkapnya monggo.


Media Sosialisasi :


1. Keluarga
Keluarga merupakan media sosialisasi yang pertama dan utama dalam proses sosialisasi. Dari data penelitian sosiologi, diketahui bahwa anak-anak yang berkepribadian menyimpang umumnya dari keluarga yang tidak harmonis. Akibatnya anak-anak tersebut cenderung berperilaku/berkepribadian menyimpang. Pertama-tama yang dikenal oleh anak-anak adalah ibunya, bapaknya dan saudara-
saudaranya.

Kebijaksanaan orangtua yang baik dalam proses sosialisasi anak, antara lain :
1. berusaha dekat dengan anak-anaknya
2. mengawasi dan mengendalikan secara wajar agar anak tidak merasa tertekan
3. mendorong agar anak mampu membedakan benar dan salah, baik dan buruk
4. memberikan keteladanan yang baik
5. menasihati anak-anak jika melakukan kesalahan-kesalahan dan tidak menjatuhkan hukuman di luar batas kejawaran.
6. menanamkan nilai-nilai religi baik dengan mempelajari agama maupun menerapkan ibadah dalam keluarga.

2. Teman Sepermainan
Teman sepermainan/sebaya juga merupakan media sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian. Anak atau remaja biasanya lebih memihak teman daripada orang tua. Hal itu disebabkan mereka takut tidak diterima oleh kelompok temannya.Para remaja yang terpengaruh pergaulan negatif biasanya mengembangkan kepribadian yang menyimpang. Apabila kepribadian remaja sudah rusak akibat pergaulan negatif, maka untuk memperbaikinya tidaklah mudah. Dengan demikian, lingkungan pergaulan sangat berpengaruh dalam proses sosoalisasi pembentuk kepribadian. Kelompok bermain mempunyai pengaruh besar dan berperan kuat dalam pembentukan kepribadian anak. Dalam kelompok bermain anak akan belajar bersosialisasi dengan
teman sebayanya. Puncak pengaruh teman bermain adalah masa remaja. Para remaja berusaha untuk melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku bagi kelompoknya itu berbeda dengan nilai yang berlaku pada keluarganya, sehingga timbul konflik antara anak dengan anggota keluarganya. Hal ini terjadi apabila para remaja lebih taat kepada nilai dan norma kelompoknya.

3. Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan media sosialisasi sekunder yang penting dalam pembentukan kepribadian. Suasana pendidikan formal yang kurang kondusif, kepribadian dan cara guru mengajar yang kurang bijaksana, gaya mengajar guru yang membosankan, serta sarana dan prasarana belajar yang kurang memadahi, semuanya berpengaruh terhadap pembentuk kepribadian siswa. Demikian pula, penempatan siswa dalam kelompok belajar yang kurang tepat, kebiasaan belajar yang buruk, prestasi belajar yang tidak memuaskan, sikap teman belajar yang kurang baik, peraturan sekolah yang terlalu ketat, semua itu menjadi faktor penyebab timbulnya kesulitan, kecemasan, kekecewaan
dan ketidakpuasdan siswa di sekolah. Oleh karena itu, perlu diciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan menyenangkan. Pendidikan di sekolah merupakan wahana sosialisasi sekunder dan merupakan tempat berlangsungnya proses sosialisasi secara formal. Robert Dreeben berpendapat bahwa yang dipelajari seorang anak di sekolah tidak hanya membaca, menulis, dan berhitung saja namun juga mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme (universal) dan kekhasan / spesifitas (specifity).

4. Tempat Pekerjaan
Tempat pekerjaan juga merupakan media sosialisasi yang tidak kal ah penting dalam proses pembentukan kepribadian. Suasana di tempat pekerjaan, jenis beban pekerjaan, jabatan dan gaji yang kurang kondusif, seringkali menjadi faktor penyebab timbulnya kekecewaan, ketidakpuasan, atau stres pada para pekerja. Demikian pula kepemimpinan yang kaku dan otoriter, sikap teman kerja yang tidak bersahabat, berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Lingkungan kerja merupakan media sosialisasi yang terakhir cukup kuat, dan efektif mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.

1) Lingkungan kerja dalam panti asuhan
Orang yang bekerja di lingkungan panti asuhan lama kelamaan terbentuk
kepribadian dengan tipe memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, sabar dan penuh
rasa toleransi.
2) Lingkungan kerja dalam perbankan
Lingkungan ini dapat membuat seseorang menjadi sangat penuh perhitungan
terutama terhadap hal-hal yang bersifat material dan uang.

5. Masyarakat Umum
Masyarakat umum merupakan media sosialisasi sekunder yang cukup domionan engaruhnya terhadap proses pembentukan kepribadian. Nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat begitu banyak dan bervariasi, sehingga seringkali membingungkan warga masyarakat. Perubahan politik tidak jarang merugikan masyarakat. Keadaan yang serba sulit tersebut menyebabkan individu hidupnya diliputi rasa cemas, ketakutan, dan tidak aman. Masyarakat umum merupakan media sosialisasi sekunder yang cukup dominan pengaruhnya terhadap proses pembentukan kepribadian. Nilai -nilai dan norma-norma social yang berlaku di masyarakat begitu banyak dan bervariasi seperti adat, kebiasaan, tatakrama pergaulan, norma agama, norma hokum, perundang-undangan, kebijakan
pemerintah, semua itu cukup berpengaruh tehadap proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian masyarakat.

6. Media Massa
Media massa berperan pula sebagai media sosialisasi. Dewasa ini, pengaruh media massa begitu kuat terhadap kehidupan masyarakat. Media massa umumnya berisi informasi tentang berbagai hal, seperti ilmu pengetahuan, nilai dan norma sosial, kesenian, dan unsur budaya lainnya. Dengan mengikuti media massa secara intensif, maka orang akan mengetahui perkembangan masyarakat dan kebudayaannya. Pengetahuan yang diperoleh dari media massa itu akan dijadikan pedoman dalam mengarahkan sikap dan perilakunya Media massa seperti media cetak, (surat kabar, majalah, tabloid) maupun media elektronik (televisi, radio, film dan video). Besarnya pengaruh media massa sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.

Contoh :
1. adegan-adegan yang berbau pornografi telah mengikis moralitas dan meningkatkan pelanggaran susila di dalam masyarakat
2. penayangan berita-berita peperangan, film-film, dengan adegan kekerasan atau sadisme diyakini telah banyak memicu peningkatan perilaku agresif pada anak-anak yang menonton.
3. Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.

[Continue reading...]

Thursday, January 3, 2013

Pengertian dan Proses Sosialisasi

- 0 comments
Sosialisasi diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup bagaimana seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang meliputi cara-cara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma social yang terdapat dalam masyarakat agar dapat diterima oleh masyarakatnya. Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknakan sebagai sebuah proses di mana kita belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana kesemuanya itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses yang terus terjadi selama hidup kita. Sosialisasi adalah proses mempelajari, menghayati, dan menanamkan suatu nilai, norma, peran, pola perilaku yang diperlukan individu-individu untuk dapat berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan masyarakat

Berikut pengertian sosialisasi menurut para ahli :

1. Charlotte Buhler
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup, dan berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dengan kelompoknya.

2. Peter Berger
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma
dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akanmembentuk kepribadiannya.

3. Paul B. Horton
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam
masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.

Dalam proses sosialisasi sendiri dikenal melalui tiga tahap , yaitu :

A. Proses Internalisasi
Proses ini merupakan suatu proses panjang dan berlangsung seumur hidup, sejak manusia lahir sampai ia meninggal dunia. Di situ ia belajar membentuk kepribadian dalam perasaan, nafsu-nafsu, maupun emosi, yang diperlukan sepanjang hidupnya. Manusia mempunyai bakat yang telah terkandung di dalam dirinya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat,nafsu, serta emosi dalam kepribadian individunya. Akan tetapi, wujud pengaktifan berbagai macam isi kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus yang berada dalam alam sekitarnya dan dalam lingkungan sosial maupun budayanya. Setiap hari dalam kehidupan individu akan bertambah pengalamannya tentang bermacam-macam perasaan baru, maka belajarlah ia merasakan kebahagiaan, kegembiraan, simpati,cinta,benci,keamanan,harga diri,kebenaran, rasa bersalah, dosa, malu, dsb. Selain perasaan tersebut berkembang pula berbagai macam hasrat seperti hasrat mempertahankan hidup. Untuk menikmati keindahan semua itu dapat dipelajari melalui prosesninternalisasi yang menjadi ,ilik kepribadian individu.

B. Proses Sosialisasi
Proses ini artinya suatu proses dimana seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan kelakuan kelompoknya. Maka kepribadian adalah keseluruhan faktor biologis, psikologis dan sosilogis yang mendasari perilaku individu.Proses sosialisasi terjadi melalui dua cara yaitu:
a. Conditioning.
b. Komunikasi atau interaksi.
Conditioning, adalah keadaan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan yang fundamental seperti cara makan, bahasa, berjalan, cara duduk, pengembangan tingkah laku dan sebagainya.

C. Proses Inkulturasi
Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pembudayaan yaitu seorang individu yang mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem nora dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaanya. Individu sejak kecil sudah mengawali proses inkulturasi dalam alam pikiran mereka sebagai warga suatu masyarakat. Mula-mula dimulai dari lingkungan keluarganya, kemudian dari teman-teman mainnya. Selain itu ia sering belajar dengan meniru berbagai macam tindakan. Namun, sebelumnya perasaan dan nilai budaya yang meberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasikan dalam kepribadiannya. Dengan berkali-kali meniru, maka tindakannya akan menjadi suatu pola yang mantap dan norma yang mengatur tindakannya itu untuk dibudidayakan. Berbagai macam norma kadang juga dipelajari seorang individu secara sebagian demiu sebagian dengan mendengarkan orang-orang di dalam lingkungan pergaulan pada saat yang berbeda-beda. Sudah tentu ada juga norma-norma yang diajarkan kepadanya dengan sengaja, tidak hanya di lingkungan keluarga dan di luar keluarga saja, tetapi juga secara formal.

[Continue reading...]
 
Copyright © | Zona Ngelmu IPS
Powered by Blogger