Saturday, March 5, 2016

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS “ROTI LEGIT PELANGI”

- 0 comments
  
KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS
 “ROTI LEGIT PELANGI”

 
www.amikom.ac.id
 
 
 
Disusun Oleh :
Nama  : Khusnul Sidik
NPM  : 15.11.9379
Kelas  : 15-S1TI-13
Jurusan  : Teknik Informatika
Kelompok : J

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2016


ABSTRAK

       Karya ilmiah ini dibuat dengan tujuan untuk memberi informasi kepada pembaca dalam membuat atau menghasilkan uang dengan cara membuat bisnis kecil sebagai peluang usaha yang menguntungkan. Untuk sekarang ini tidak banyak orang yang yang kreatif dalam menciptakan inovasi baru. Dalam karya ilmiah ini, penulis mengelola bisnis roti goreng. Bisnis ini masih belum banyak yang mengikuti,karena ini merupakan inovasi baru, yang dahulu-dahulunya roti Cuma di bakar,di bungkus, dan yang baru-baru ini, adalah bisnis roti goreng, jika bisnis ini ditekuni dan diniati maka akan menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Peluang usaha roti goreng ini dapat diawali dengan modal yang sedikit dan dapat memperoleh hasil yang besar sekali. Kebutuhan terhadap produk roti goreng masih cukup besar. Kalau ada menjualnya dengan gerobak dorong tentunya sasarannya adalah masyarakat menengah ke bawah, anak pelajar dan mahasiswa pun dapat menikmatinya. Namun bila Anda mengemasnya dengan baik tentunya Anda bisa menentukan target pasar menengah ke atas. Dengan adanya karya ilmiah ini semoga bermanfaat bagi pembaca yang berminat mengelola roti sebagai peluang usaha yang menguntungkan dan pastinya masih banyak kekurangan dan terus mengasah.

ISI 

Dalam karya ilmiah ini saya akan membahas peluang usaha Roti Goreng Manis yang menguntungkan. Sebelum memulainya saya akan menjelaskan apa saja manfaat dan kekurangan bahan roti. Roti bukan sekadar makanan yang mudah didapat, tapi juga punya segudang gizi bermanfaat. Peranan roti kelak, bisa tidak lagi sebatas menu untuk sarapan, tetapi juga untuk makan siang dan makan malam. Oleh karena itu, kandungan gizi roti perlu diperhatikan agar dapat memberikan sumbangan gizi yang berarti penting. 

Nilai gizi roti 

Secara umum roti dibedakan atas roti tawar dan roti manis. Roti tawar dapat dibedakan lagi atas roti putih (white bread) dan roti gandum (whole wheat bread). Sedangkan roti manis sendiri dibedakan atas dasar bahan pengisinya, seperti roti isi pisang, nenas, kelapa, daging sapi, daging ayam, sosis, coklat, keju, dan lain-lain. Dibandingkan dengan 100 gram nasi putih atau mi basah, maka 100 gram roti memberikan energi, karbohidrat, protein, kalsium, fosfor dan besi yang lebih banyak. Sebagai menu sarapan atau bekal ?sekolah? si kecil, biasanya roti disajikan bersama susu dan telur goreng atau dadar. Menu ini akan meningkatkan perolehan zat gizi, khususnya protein yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak balita. 

 Di dalam kelompok bakery , roti merupakan produk yang paling pertama dikenal dan paling populer hingga saat ini. Komposisi roti tawar umumnya terdiri dari: 57% tepung terigu; 36% air; 1,6% gula; 1,6% shortening (mentega atau margarin); 1% tepung susu; 1% garam dapur; 0,8% ragi roti (yeast); 0,8% malt dan 0,2% garam mineral. Gula, walaupun dalam jumlah sedikit perlu ditambahkan ke dalam adonan roti. Hal ini karena gula berperan sebagai bagi pertumbuhan ragi roti (Saccharomyces cereviseae) untuk dapat menghasilkan gas karbondioksida (CO 2) dalam jumlah yang cukup untuk mengembangkan adonan secara optimal. 

Setelah membaca tulisan diatas tentunya kita tahu bahwa roti yang jarang disukai sebagian orang ternyata mempunyai banyak manfaat. Didalam karya ilmiah ini kalau saya cuma menjelaskan manfaat dan peluang usahanya saja tanpa didasari contoh yang nyata akan terasa kurang. Maka dari itu saya akan memberikan contoh resep roti goreng. Saya memilih contoh resep roti goreng yang banyak digemari orang berikut contohnya: 

Resep Roti Goreng 

Bahan:
 1. gram gula pasir halus
2. 30 gram susu bubuk
3. 5 gram garam
4. 225 ml air
5. 500 gram terigu
6. 5 gram ragi instant/fermipan
7. 5 gram bawking powder
8. 100 gram margarine
9. 2 telur ayam, kocok lepas

Bahan Isi:
1. Minyak secukupnya untuk menumis
2. 5o gram bawang Bombay, cincang halus
3. 300 gram daging ayam giling + daging udang cacahan
 4. 150 gram wortel, potong kecil-kecil
5. 100 gram kacang polong kalengan, tiriskan
6. Garam dan merica secukupnya

Cara Membuat Bahan Isi:
a. Tumis bawang Bombay hingga layu.
b. Masukkan ketiga macam dagingnya.
c. Aduk rata.
d. Masukkan wortel dan kacang polongnya.
e. Bubuhi garam dan merica. Ratakan dan cicipi.
f. Masak sampai sayurnya matang. g. Sisihkan.

Cara Membuat kulit Dan Penyelesaian:
1. Aduk gula, susu, garam, dan air hingga larut. Sisihkan
2. Campur terigu, ragi dan bawking powder. Tambahkan margarine dan telur kocok. Uleni sambil tuangi cairan susu sedikit demi sedikit hingga adonan licin dan kalis
3. Bulatkan adonan dan letakkan ditengah wadah. Tutup dengan serbet yang lembab dan biarkan diruang yang hangat selama ½ jam
4. Setelah itu tinju-tinju adonan supaya kempis, potong-potong dan timbangkira-kira 25 gram. Pipihkan dan isi dengan adonan isi secukupnya. Bulatkan seperti bola lalu diamkan selam 10 menit
5. Kemudian celup kedalam adonan pencelup, gulingkan ke tepung panir. Goreng sampai kekuningan.


Peluang usaha roti goreng modal sedikit dengan hasil seladang. Tidak harus mempunyai ladang untuk mendapatkan keuntungan seladang dari jualan roti goreng. Kebutuhan terhadap produk roti goreng masih cukup besar, pangsa pasarnya masih cukup luas dan beragam. Kalau Anda menjualnya dengan gerobak dorong tentunya sasarannya adalah masyarakat menengah ke bawah, namun bila Anda mengemasnya dengan baik tentunya Anda bias menentukan target pasar menengah ke atas. Apalagi kalau Anda punya sepuluh gerobak dorong untuk berusaha, Anda bisa menjadi juragan usaha roti goreng. Tetapi, untuk memulai sebuah usaha mulailah dengan yang kecil dulu, selami dan pahami karakteristik usaha roti goreng. Kalau tidak punya gerobak dorong, mulailah dari rumah Anda sendiri. Kenalkan produk Anda ke teman-teman dekat, tetangga-tetangga Anda, seluruh tetangga di kampung, tentunya mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli produk roti goreng Anda. Kalau produk Anda diterima mulailah untuk menitipkan produk Anda ke toko-toko, bias swalayan, supermarket, atau toko khusus pusat oleh-oleh di kota Anda. Tentunya, Anda harus mengemasnya dengan baik dan diberi merek. Adakalanya toko pusat oleh-oleh hanya mau menerima kemasan kosongan tanpa merek, dan merek atau labelnya akan diberi sendiri oleh toko tersebut. Tidak masalah, sepanjang Anda tidak dirugikan dan keuntungan yang Anda harapkan terpenuhi.

 Di samping itu pusat oleh-oleh biasanya sudah punya surat ijin produksi atau ijin lainnya dari instansi terkait dan Anda tidak perlu repot-repot untuk mengurusnya. Tetapi lebih baik Anda harus mengurus ijin apabila anda memberi kemasan pada produk Anda, biar produk Anda tidak dikatakan ilegal. Bagaimana kalau dijual pakai gerobak dorong? Lazimnya ya harus mengurus ijin lebih dulu, karena biaya perijinan untuk pemula memang agak berat, tidak mahal sebenarnya untuk mengurus perijinan, sambil produksi Anda bias menanyakan ke dinas industri kecil atau ke instansi terkait lainnya. Anda bisa menggunakan kantong plastik yang di desain dengan menarik, untuk melekatkan kantong plastiknya bisa digunakan hand sealer, alat pengemas plastik. Mengenai harga, Anda bisa survey harga ke pasar dan toko-toko terdekat, saat ini harga roti goreng di pasaran per kemasan bervariasi dari Rp. 2.500,- hingga Rp. 5.000,-, tergantung dari target pasarnya. Seperti yang kita tahu bahwa banyak sekali manfaat roti. Tidak semua hal dapat saya deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Saya melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang saya miliki. Saya bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman. Saya akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki karya tulis saya di masa datang. Sehingga karya tulis berikutnya dan karya tulis lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik. 

Referensi 
Pemikiran Sendiri 
http://resepmasakanmu.com
[Continue reading...]

Thursday, December 12, 2013

Kebudayaan Masyarakat Pra Aksara

- 2 comments
Zona Ngelmu IPS pada kesempatan ini akan berbagi tentang Kebudayaan Masyarakat Pra Aksara pada Zaman Pra aksara dibagi menjadi dua, yaitu: zaman batu dan  zaman logam. Pembagian itu didasarkan pada alat-alat atau hasil kebudayaan yang mereka ciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya. Secara skematis, pembagian zaman pra aksara dapat digambarkan sebagai berikut :

Pembagian Zaman Menurut Hasil Kebudayaan
     Disebut zaman batu karena hasil-hasil kebudayaan pada masa itu sebagian besar terbuat dari batu, mulai dari yang sedernaha dan kasar sampai pada yang baik dan halus. Perbedaan itu merupakan gambaran usia peralatan tersebut. Semakin sederhana dan kasar, maka peralatan itu dikatakan berasal dari zaman yang lebih tua, dan sebaliknya. Zaman batu sendiri dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu: (1) zaman batu tua (paleolitikum), (2) zaman batu tengah (mesolitikum), dan (3) zaman batu muda (neolitikum). Di samping ketiga zaman batu itu, juga dikenal zaman batu besar (megalitikum).

     Beberapa hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum, di antaranya adalah kapak genggam, kapak perimbas, monofacial, alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua sisinya. Alat-alat ini tidak dapat digolongkan ke dalam kebudayaan batu teras maupun golongan fl ake. Alat-alat ini dikerjakan secara sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan, tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa contoh hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

     Chopper merupakan salah satu jenis kapak genggam yang berfungsi sebagai alat penetak. Oleh karena itu, chopper sering disebut sebagai kapak penetak. Mungkin kalian masih sulit membayangkan bagaimana cara menggunakan chopper.
Chopper dari Pacitan

Misalnya, kalian akan memotong kayu yang basah atau tali yang besar, sementara kalian tidak memiliki alat pemotong, maka kalian dapat mengambil pecahan batu yang tajam. Kayu atau tali yang akan dipotong diletakan pada benda yang keras dan bagian yang akan dipotong dipukul dengan batu, maka kayu atau tali akan putus. Itulah, cara menggunakan kapak penetak atau chopper.

      Contoh hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum adalah flake atau alat-alat serpih. Hasil kebudayaan ini banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran (Jawa Tengah) dan Cebbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang besar, terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit hewan. Perhatikan salah satu contoh flake yang ditemukan di Sangiran dan Cebbenge.

Flake dari Sangiran
Flakedari Cabbenge
     
     Pada Zaman Paleolitikum, di samping ditemukan hasil-hasil kebudayaan, juga ditemukan beberapa peninggalan, seperti tengkorak (2 buah), fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan tulang paha (6 buah) yang diperkirakan dari jenis manusia. Selama masa paleolitikum tengah, jenis manusia itu tidak banyak mengalami perubahan secara fisik. Pithecanthropus Erectus adalah nenek moyang dari Manusia Solo (Homo Soloensis). Persoalan yang agak aneh karena Pithecanthropus memiliki dahi yang sangat sempit, busur alis mata yang tebal, otak yang kecil, rahang yang besar, dan geraham yang kokoh. Di samping ini adalah salah tengkorak 

     Homo Soloensis yang ditemukan oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan von Konigwald di Ngandong pada tahun 1936-1941.
Tengkorak Manusia Homo Soloensis
     Pada Zaman Mesolitikum terdapat tiga macam kebudayaan yang berbeda satu sama lain, yaitu kebuadayaan: Bascon-Hoabin, Toale, dan Sampung. Ketiga kebudayaan itu diperkirakan datang di Indonesia hampir bersamaan waktunya.

     Kebudayaan Bascon-Hoabin ditemukan dalam goa-goa dan bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Daerah-daerah itu merupakan wilayah yang saling berkaitan satu samalainnya. Kebudayaan ini umumnya berupa alat dari batu kali yang bulat. Sering disebut sebagai ‘batu teras’ karena hanya dikerjakan satu sisi, sedangkan sisi yang lain dibiarkan tetap licin.

     Sumateralith adalah salah jenis peralatan manusia pra aksara Indonesia yang berfungsi sebagai alat penetak, pemecah, pemotong, pelempar, penggali, dan lain-lain. Alat ini ditemukan di Sumatera dalam jumlah yang sangat banyak. Penemuan ini merupakan fenomena yang menarik karena berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu. Sekurang-kurangnya, penemuan itu merupakan bukti bahwa kehidupan masyarakat sudah semakin maju dengan kebutuhan yang semakin tinggi. 

Sumateralith
     Hasil kebudayaan Toale dan yang serumpun umumnya, berupa kebudayaan ‘flake’ dan ‘blade’. Kebudayaan ini mendapat pengaruh kuat dari unsur ‘microlith’ sehingga menghasilkan alat-alat yang berukuran kecil dan terbuat dari batu yang mirip dengan ‘batu api’ di Eropa. Di samping itu, ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang dan kerang. Alat-alat ini sebagian besar merupakan alat berburu atau yang dipergunakan para nelayan. 

     Kebudayaan-kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Toale ditemukan di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki); di Sumatera (di sekeliling danau Kerinci dan goa-goa di Jambi); di Flores, di Timor, dan di Sulawesi. Di bawah ini adalah salah satu hasil kebuadayaan Toale dari Sulawesi Selatan yang memiliki ukuran lebih kecil, tetapi tampak lebih tajam dibandingkan dengan kapak genggam, kapak perimbas, atau jenis kapak lainnya. 

Blade dan Alat-alat Microlith dari Toale
     Di samping alat-alat yang terbuat dari batu, juga ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang dan tanduk. Kedua jenis alat ini termasuk dalam hasil kebudayaan Toale.

     Sementara, kebudayaan Sampung merupakan kebudayaan tulang dan tanduk yang ditemukan di desa Sampung, Ponorogo. Barang yang ditemukan berupa jarum, pisau, dan sudip. Pada lapisan yang lain telah ditemukan ‘mata panah’ yang terbuat dari kapur membatu. Di samping itu ditemukan juga beberapa kerangka manusia dan tulang binatang buas yang dibor (mungkin sebagai perhiasan atau jimat).

Alat dari Tulang dan Tanduk
     Tentang persebaran kebudayaan Toale tidak diketahui secara. Namun, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kebudayaan ini telah berkembang di Sulawesi dan Flores. 

     Kira-kira 1000 tahun SM, telah datang bangsa-bangsa baru yang memiliki kebudayaan lebih maju dan tinggi derajatnya.

Alat-alat dari Tulang dan
Tanduk (Kebu-dayaan Sam-pung).

     Mereka dikenal sebagai bangsa Probo Melayu dan Deutro Melayu. Beberapa kebudayaan mereka yang terpenting adalah sudah mengenal pertanian, berburu, menangkap ikan, memelihara ternak jinak (anjing, babi, dan ayam).

Mata Panah dari Sulawesi (kiri) dan
Mata Panah dari Jawa (kanan)
.
     Sistem pertanian dilakukan dengan sederhana. Mer eka menanam tanaman untuk beberapa kali dan sesudah itu ditinggalkan. Mereka berpindah ke tempat lain dan melaksanakan sistem pertanian yang sama untuk kemudian berpindah lagi. Sistem pertanian itu sangat tidak ekonomis, tetapi lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Mereka mulai hidup menetap, meski untuk waktu yang tidak lama. Mereka telah membangun pondok-pondok yang berbentuk persegi empat siku-siku, didirikan di atas tiang-tiang kayu, diding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah. 

Sekian dari Zona Ngelmu IPS semoga artikel Kebudayaan Masyarakat Pra Aksara dapat bermanfaat. 
[Continue reading...]

Monday, November 11, 2013

Pola Kehidupan Menetap

- 1 comments
      ZonaNgelmu.Kehidupan masyarakat pra aksara terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakatnya. Ternyata, pola kehidupan semi nomaden tidak menguntungkan karena setiap manusia masih harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di samping itu, setiap orang harus membangun tempat tinggal, meskipun hanya untuk sementara waktu. Dengan demikian, pola kehidupan semi nomaden dapat dikatakan kurang efektif dan efisien. Oleh karena itu, muncul gagasan untuk mengembangkan pola kehidupan yang menetap. Itulah, konsep dasar yang mendasari perkembangan kehidupan masyarakat pra aksara.

      Pola kehidupan menetap memiliki beberapa keuntungan atau kelebihan, di antaranya: 
  • setiap keluarga dapat membangunan tempat tinggal yang lebih baik untuk waktu yang lebih lama; 
  • setiap orang dapat menghemat tenaga karena tidak harus membawa peralatan hidup dari satu tempat ke tempat lain; 
  • para wanita dan anak-anak dapat tinggal lebih lama di rumah dan tidak akan merepotkan;
  • wanita dan anak-anak sangat merepotkan, apabila mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain; 
  • mereka dapat menyimpan sisa-sisa makanan dengan lebih baik dan aman; 
  • mereka dapat memelihara ternak sehingga mempermudah pemenuhan kebutuhan, terutama apabila cuaca sedang tidak baik;
  • mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga, sekaligus menghasilkan   kebudayaan yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya; 
  • mereka mulai mengenal sistem astronomi untuk kepentingan bercocok tanam; 
  • mereka mulai mengenal sistem kepercayaan. 


     Dilihat dari aspek geografis, masyarakat pra aksara cenderung untuk hidup di daerah lembah atau sekitar sungai dari pada di daerah pegunungan. Kecenderungan itu didasarkan pada beberapa kenyataan, seperti:
  • memiliki struktur tanah yang lebih subur dan sangat menguntungkan bagi kepentingan bercocok tanam; 
  • memiliki sumber air yang baik sebagai salah satu kebutuhan hidup manusia; 
  • lebih mudah dijangkau dan memiliki akses ke daerah lain yang lebih mudah; 
[Continue reading...]

Pola Kehidupan Semi Nomaden

- 0 comments
     ZonaNgelmu.Terbatasnya, kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat menuntut setiap manusia untuk merubah pola kehidupannya. Oleh karena itu, masyarakat pra aksara mulai merubah pola hidup secara nomaden menjadi semi nomaden. Kehidupan semi nomaden adalah pola kehidupan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi sudah disertai dengan kehidupan menetap sementara. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa mereka sudah mulai mengenal cara-cara mengolah bahan makanan. 

     Pola kehidupan semi nomaden ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: 
          • mereka masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain; 
          • mereka masih bergantung pada alam; 
          • mereka mulai mengenal cara-cara mengolah bahan makanan; 
          • mereka telah memiliki tempat tinggal sementara; 
          • di samping mengumpulkan bahan makanan dan berburu, 
            mereka mulai menanam berbagai jenis tanaman; 
         • sebelum meninggalkan suatu tempat untuk berpindah ke tempat lain, 
           mereka terlebih dahulu menanam berbagai jenis tanaman dan mereka 
           akan kembali ke tempat itu, ketika musin panen tiba; 
        • peralatan hidup mereka sudah lebih baik dibandingkan dengan peralatan hidup masyarakat nomaden;
        • di samping terbuat dari batu dan kayu, peralatan itu juga terbuat dari tulang sehingga lebih tajam

     Kehidupan sosial, masyarakat semi nomaden setingkat lebih baik dari pada masyarakat nomaden. Jumlah anggota kelompok semakin bertambah besar dan tidak hanya terbatas pada keluarga tertentu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan di antara mereka mulai dikembangkan. Rasa kebersamaan ini sangat penting dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis, tenang, aman, tentram, dan damai. Nilai-nilai kehidupan, seperti gotong royong, saling membantu, saling mencintai sesama manusia, saling menghargai dan mengjormati telah berkembang pada masyarakat pra aksara. 

     Pada zaman ini, masyarakat diperkirakan telah memelihara anjing. Pada waktu itu, anjing merupakan binatang yang dapat membantu manusia dalam berburu binatang. Di Sulawesi Selatan, di dalam sebuah goa ditemukan sisa-sisa gigi anjing oleh Sarasin bersaudara. 
[Continue reading...]

Pola Kehidupan Nomaden

- 0 comments
     Nomaden artinya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kehidupan masyarakat pra aksara sangat bergantung kepada alam. Bahkan, kehidupan mereka tak ubahnya seperti kelompok hewan karena bergantung pada apa yang disediakan alam. Apa yang mereka makan adalah bahan makanan apa yang disediakan alam. Buah-buahan, umbi- umbian, atau dedaunan yang mereka makan tinggal memetik dari pepohonan atau menggali dari tanah. Mereka tidak pernah menanam atau mengolah pertanian. 

     Apabila mereka ingin makan ikan, maka mereka tinggal menangkap ikan di sungai, waduk, atau tempat-tempat lain, di mana ikan dapat hidup. Apabila mereka ingin makan daging, maka mereka tinggal berburu untuk menangkap binatang buruannya. Adapun cara menangkap ikan atau binatang buruannya, tentu berbeda dengan yang kita lakukan sekarang. Mereka tidak pernah memelihara ikan atau binatang ternak lainnya. 

     Berdasarkan pola kehidupan nomaden tersebut, maka masa kehidupan masyarakat pra aksara sering disebut sebagai ‘masa mengumpulkan bahan makanan dan berburu’. Jika bahan makanan yang akan dikumpulkan telah habis, mereka kemudian berpindah ke tempat lain yang banyak menyediakan bahan makanan. Di samping itu, tujuan perpindahan mereka adalah untuk menangkap binatang buruannya. Kehidupan semacam itu berlangsung dalam waktu yang lama dan berlangsung secara terus menerus. Oleh karena itu, mereka tidak pernah memikirkan rumah sebagai tempat tinggal yang tetap. 

     Mereka tinggal di alam terbuka seperti hutan, di bawah pohon, di tepi sungai, di gunung, di gua, dan di lembah-lembah. Pada waktu itu, lingkungan alam belum stabil dan masih liar atau ganas. Oleh karena itu, setiap orang harus berhati-hati terhadap setiap ancaman yang dapat muncul secara tiba-tiba. Ancaman yang paling membahayakan adalah binatang buas. merupakan musuh utama manusia dalam hidup dan kehidupannya.

     Berkaitan dengan kehidupan yang kurang aman, maka untuk menuju ke suatu tempat, mereka biasanya mereka mem  memilih jalan dengan menelusuri sungai. Perjalanan melalui sungai dipandang lebih mudah dan aman dari pada melalui daratan (hutan) yang sangat berbahaya. Sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi, akhirnya timbul pemikiran untuk membuat rakit-rakit sebagai alat transportasi. Bahkan dalam perkembangannya, masyarakat pra aksara mampu membuat perahu sebagai sarana transportasi melalui sungai. 

     Pada masa nomaden, masyarakat pra aksara telah mengenal kehidupan berkelompok. Jumlah anggota dari setiap kelompok sekitar 10-15 orang. Bahkan, untuk mempermudah hidup dan kehidupannya, mereka telah mampu membuat alat-alat perlengkapan dari batu dan kayu, meskipun bentuknya masih sangat kasar dan sederhana. Ciri-ciri kehidupan masyarakat nomaden adalah sebagai berikut: 

        • selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, 
        • sangat bergantung pada alam, 
        • belum mengolah bahan makanan, 
        • hidup dari hasil mengumpulkan bahan makanan dan berburu, 
        • belum memiliki tempat tinggal yang tetap, 
        • peralatan hidup masih sangat sederhana dan terbuat dari batu atau kayu

     Lama kelamaan, masyarakat pra aksara menyadari bahwa makanan yang disediakan oleh alam sangat terbatas dan akhirnya akan habis. Oleh karena itu, cara hidup yang sangat bergantung pada alam harus diperbaiki. Caranya adalah dengan menanami lahan-lahan yang akan ditinggalkan agar dapat menyediakan bahan makanan yang lebih banyak pada waktu yang akan datang. Di samping itu, para wanita dan anak kecil tidak harus selalu ikut berpindah untuk mengumpulkan bahan makanan atau berburu binatang.
[Continue reading...]

Pola Kehidupan Masyarakat Pra Aksara

- 0 comments
     Masyarakat pra aksara adalah gambaran tentang kehidupan manusia-manusia pada masa lampau, di mana mereka belum mengenal tulisan sebagai cirinya. Kehidupan masyarakat pra aksara dapat dibagi dalam beberapa tahap, yaitu: (1) kehidupan nomaden, (2) kehidupan semi nomaden, dan (3) kehidupan menetap. Meskipun demikian, pola kehidupan masyarakat pra aksara tidak dapat dijadikan dasar pembagian zaman. Oleh karena itu, apabila dikaitkan dengan pembagian zaman, maka masyarakat pra aksara hidup pada zaman batu dan zaman logam. 

     Secara garis besar, pembagian zaman pra aksara dapat dibedakan sebagai berikut:

Pembagian Zaman Pra Aksara 
Menurut H.R. Van Heekeren



     Pembagian zaman praaksara di atas, dapat dijadikan dasar dalam menentukan asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Dengan demikian, kalian dapat belajar berpikir kritis. Misalnya, untuk mendukung pendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Melayu, kalian harus memiliki argumen yang kuat, logis, dan objektif. 

     Terlepas dari mana asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia dan kapan mereka mulai tinggal di wilayah Indonesia, kita harus percaya bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah ribuan tahun sebelum masehi telah hidup di wilayah Indonesia. Kehidupan mereka mengalami perkembangan yang teratur seperti bangsa- bangsa di belahan dunia lain. Tahapan perkembangan kehidupan masyarakat pra aksara di Indonesia adalah sebagai berikut, klik link berikut untuk penjelasan secara lanjut :


Sekian dari ZonaNgelmu semoga bermanfaat dan tambah rajin belajarnya agar bisa meneruskan perjuangan bangsa. selamat hari pahlawan !!
[Continue reading...]

Sunday, November 10, 2013

Kehidupan Pada Masa Pra Aksara di Indonesia

- 0 comments
     Masyarakat Indonesia berasal dari Yunan, yaitu suatu daerah yang terletak di Myanmar (Birma). Pada waktu berpindah dari Yunan ke Indonesia, mereka belum mengenal tulisan. Oleh karena itu, mereka disebut masyarakat pra aksara. Tujuan perpindahan mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka hidup secara nomaden, yaitu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tempat-tempat yang menjadi tujuan mereka adalah tempat yang menghasilkan bahan makanan. Salah satu tempat yang menjadi tujuan mereka adalah Indonesia. Untuk mencapai Indonesia tidak terlalu sulit karena pada waktu mereka berpindah, wilayah Indonesia masih menyatu dengan daratan Asia. Hal ini dibuktikan dengan persamaan fauna (binatang) yang hidup di Indonesia dan daratan Asia.

     Ketika sampai di Indonesia, mereka masih hidup secara nomaden. Lama kelamaan, kehidupan mereka mengalami kemajuan. Mereka mulai mengenal sistem bercocok tanam. Untuk keperluan bercocok tanam, mereka mulai menetap sementara. Setelah selesai bercocok tanam, mereka berpindah ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di tempat yang baru, mereka akan bercocok tanam dan hidup menetap sementara. Akhirnya, mereka akan kembali ke tempat semula apabila musim panen telah tiba. Kehidupan ini dilakukan secara terus menerus. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai masyarakat semi nomaden. 

      Kehidupan mereka terus berkembang dan akhirnya mereka mulai hidup menetap di suatu tempat. Untuk mempertahankan hidupnya, mereka tidak semata-mata bergantung kepada apa yang disediakan alam. Mereka mulai mengenal sistem pertanian dengan menanam berbagai jenis tanaman dan mulai memelihara ternak. Di samping itu, mereka mulai hidup secara bersama sehingga terbentuklah masyarakat pra sejarah. Mereka saling membantu dalam mempertahankan hidup dan kehidupannya. Misalnya, untuk menangkap binatang buruan, mereka lakukan secara bersama- sama. 

     Untuk memudahkan cara memenuhi kebutuhan, masyarakat pra aksara mulai mengenal dan membuat peralatan. Alat-alat itu terbuat dari batu, tulang, kayu, atau logam. Alat-alat tersebut ada yang sangat kasar, agak halus, dan sangat halus bentuknya. Di samping itu, ada yang bulat, pipih, runcing, kecil, dan besar. Bentuk dan jenis alat-alat itu sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hidupnya. Sisa-sisa peralatan yang terbuat dari tulang dan kayu, umumnya telah membatu (menjadi batu) atau sering disebut fosil. Sisa-sisa peninggalan ini disebut sebagai hasil kebudayaan fisik (materi).      

     Masyarakat pra aksara sudah mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki roh atau jiwa. Sedangkan dinamisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Aliran kepercayaan ini disebut sebagai kebudayaan rohani.


A.  ASAL USUL NENEK MOYANG

    Berikut adalah asal usul nenk moyang menurut Para ahli yang memiliki pendapat yang beragam dengan berbagai argumen atau alasannya, seperti : 

1. Prof. Dr. H. Kern dengan teori imigrasi menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Campa, Kochin Cina, Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada kesamaan bahasa yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanisia, dan Mikronesia. Menurut hasil penelitiannya, bahasa-bahasa yang digunakan di daerah-daerah tersebut berasal dari satu akar bahasa yang sama, yaitu bahasa Austronesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya nama dan bahasa yang dipakai daerah-daerah tersebut. Objek penelitian Kern adalah kesamaan bahasa, nama- nama binatang dan alat-alat perang. 

2. Van Heine Geldern berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia. Pendapat ini didukung oleh artefak-artefak atau peninggalan kebudayaan yang ditemukan di Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan peninggalan- peninggalan kebudayaan yang ditemukan di daerah Asia. 

3. Prof. Mohammad Yamin berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia sendiri. Pendapat ini didasarkan pada penemuan fosil-fosil dan artefak- artefak manusia tertua di Indonesia dalam jumlah yang banyak. Di samping itu, Mohammad Yamin berpegang pada prinsip Blood Und Breden Unchro, yang berarti darah dan tanah bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Manusia purba mungkin telah tinggal di Indonesia, sebelum terjadi gelombang perpindahan bangsa-bangsa dari Yunan dan Campa ke wilayah Indonesia. Persoalannya, apakah nenek moyang bangsa Indonesia adalah manusia purba? 

Kehidupan Pada Masa Pra Aksara di Indonesia
Kerangka Manusia Pithecanthropus Pithecanthropus adalah manusia kera yang berdiri tegak dari Trinil. Fosil ini ditemukan oleh Eugene Dobuis pada tahun 1890.

4. Hogen berpendapat bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Banga ini bercampur dengan bangsa Mongol dan kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar ke wilayah Indonesia pada tahun 3000 SM – 1500 SM. Sedangkan bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) menyebar ke wilayah Indonesia pada tahun 1500 SM – 500 SM. 


Bertitik tolak dari pendapat-pendapat di atas, terdapat hal-hal yang menarik tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.

Pertama, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan dan Campa. Argumen ini merujuk pada pendapat Moh. Ali dan Kern bahwa sekitar tahun 3000 SM – 1500 SM terjadi gelombang perpindahan bangsa-bangsa di Yunan dan Campa sebagai akibat desakan bangsa lain dari Asia Tengah yang lebih kuat. Argumen ini diperkuat dengan adanya persamaan bahasa, nama binatang, dan nama peralatan yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia.  

Kedua, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Argumen ini merujuk pada pendapat Mohammad Yamin yang didukung dengan penemuan fosil-fosil dan artefak-artefak manusia tertua di wilayah Indonesia dalam jumlah yang banyak. Sementara, fosil dan artefak manusia tertua jarang  ditemukan di daratan Asia. Sinanthropus Pekinensis yang ditemukan di Cina dan diperkirakan sezaman dengan Pithecantropus Erectus dari Indonesia, merupakan satu-satunya penemuan fosil manusia tertua di daratan Asia. 

Ketiga, masyarakat awal yang menempati wilayah Indonesia termasuk rumpun bangsa Melayu. Oleh karena itu, bangsa Melayu ditempatkan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Argumen ini merujuk pada pendapat Hogen. Bangsa Melayu yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu: 

           1. Bangsa Proto Melayu 

   Bangsa ini memasuki wilayah Indonesia melalui 2 (dua) jalan, yaitu:

a. Jalan barat dari Semenanjung Malaka ke Sumatera dan selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia. 
b. Jalan timur dari Semenanjung Malaka ke Filipina dan Minahasa, serta selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia.  

Kehidupan Pada Masa Pra Aksara di Indonesia
Peta rute perpindahan nenek moyang bangsa Indonesia
   Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan yang setingkat lebih tinggi dari kebudayaan Homo Sapiens di Indonesia. Kebuadayaan mereka adalah kebudayaan batu muda (neolitikum). Hasil- hasil kebudayaan mereka masih terbuat dari batu, tetapi telah dikerjakan dengan baik sekali (halus).

   Kapak persegi merupakan hasil kebudayaan bangsa Proto Melayu yang masuk ke Indonesia melalui jalan barat dan kapak lonjong melalui jalan timur. Keturunan bangsa Proto Melayu yang masih hidup hingga sekarang, di antaranya adalah suku bangsa Dayak, Toraja, Batak, Papua. 

       2. Bangsa Deutro Melayu 

   Sejak tahun 500 SM, bangsa Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia secara bergelombang melalui jalan barat. Kebudayaan bangsa Deitro Melayu lebih tinggi dari kebudayaan bangsa Proto Melayu. Hasil kebudayaan mereka terbuat dari logam (perunggu dan besi). Kebuadayaan mereka sering disebut kebudayaan Don Song, yaitu suatu nama kebudayaan di daerah Tonkin yang memiliki kesamaan dengan kebudayaan bangsa Deutro Melayu. Daerah Tonkin diperkirakan merupakan tempat asal bangsa Deutro Melayu, sebelum menyebar ke wilayah Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang penting di Indonesia adalah kapak corong atau kapak sepatu, nekara, dan bejana perunggu. Keturunan bangsa Deutro Melayu yang masih hidup hingga sekarang, di antaranya suku bangsa Melayu, Batak, Minang, Jawa, Bugis.

Sekian dari zonangelmu semoga posting Kehidupan Pada Masa Pra Aksara di Indonesia ini bermanfaat bagi kita semua.
[Continue reading...]

Sunday, March 17, 2013

Pengertian Harga Kesimbangan

- 0 comments
Yang dimaksud harga keseimbangan adalah harga yang terbentuk pada titik pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran, atau dengan kata lain adalah harga kesepakatan antara penjual dengan pembeli. Pada harga keseimbangan produsen/penawaran bersedia melepas barang/jasa, sedangkan permintaan/konsumen bersedia membayar harganya. Dalam kurva harga keseimbangan terjadi titik temu antara kurva permintaan dan kurva penawaran, yang disebut Equilibrium Price.Terbentuknya harga dan kuantitas keseimbangan di pasar merupakan hasil kesepakatan antara pembeli (konsumen) dan penjual (produsen) di mana kuantitas yang diminta dan yang ditawarkan sama besarnya. Jika keseimbangan ini telah tercapai, biasanya titik keseimbangan ini akan bertahan lama dan menjadi patokan pihak pembeli dan pihak penjual dalam menentukan harga.

untuk lebih mudahnya silakan lihat grafik berikut :

Pada grafik tersebut titik keseimbangan terletak pada huruf E, dimana terjadi kesepakatan harga antara penjual dengan pembeli sebesar 0-P dengan jumlah barang 0-Q. Cara menghitung harga keseimbangan sangat mudah jika disediakan tabel tinggal lihat saja Q yang sama antara Qd dengan Qs, nah P nya pasti harga keseimbangan.

Pada tabel di atas harga keseimbangan adalah Rp 400,00 kenapa ? Karena pada saat harga Rp 400,00 jumlah Qd (jumlah yang diminta) nya sama dengan Qs (jumlah yang ditawarkan) yaitu 5.000 unit.

Ada pertanyaan ? silakan tulis di kotak komentar berikut ? Pertanyaan yang beruntung akan dijawab


[Continue reading...]
 
Copyright © | Zona Ngelmu IPS
Powered by Blogger